Secercah Asa Dibalik “Sule”

Pernah merasakan rasanya jadi wanita pekerja yang tiba-tiba harus berkutat pada rutinitas rumah tangga ? Pfff, seribu satu macam rasa mirip gado-gado begitulah. Ada rasa senangnya plus campur rasa dukanya. Wkkks…marilah saya kupas satu satu sembari beramal pengalaman aktual yang benar-benar mewarnai kehidupan saya kurang lebih hampir 1 dekade lamanya. Wooww, lama nian perjuangan meniti hidup menuju kesuksesan ya. Psst, jangan takut Allah kan, menyayangi umatNya yang penyabar kok 🙂

Sebenarnya prinsip saya bekerja adalah simple, untuk mengaktualisasikan kemampuan saya sebagai wanita dan bidang ilmu yang telah saya pelajari hingga bangku kuliah. Masak, abis wisuda kok langsung meried habis itu terus merawat anak-anak. Kesannya kok, nyantai sekali. Aduhhh, saya ini bukan berasal dari kaum “gedongan” cuma ongkang-ongkang, rejeki datang mengalir begitu saja. Sebaliknya saya ingin tekun bekerja dan jadi panutan adik-adik dalam keluarga. Lagian ibunda saya seorang single parent , toh setidak-tidaknya ada yang bisa dibanggakan dikit, begitu bukan ?

Singkat kata, akhirnya syukur alhamdullilah setelah kelulusan saya bisa bekerja. Mungkin takdir saya  untuk terus mencintai dunia pendidikan, ya mau tidak mau berkecimpung juga sebagai tenaga pendidik. Alias guru. Senangnya menyandang predikat “Guru”, karena sudah terkesan dengan embel-embel sejak kecil kalau orang yang digugu dan ditiru (versi singkatan dalam Bahasa Jawa) adalah seorang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Kereeen abis,  bisa disetarakan dengan pahlawan, dong jadinya. Hehehe.

Ternyata manisnya pengalaman mendulang kebersamaan sebagai guru juga ada masa akhirnya, dikarenakan adanya perbedaan visi dan misi dengan pemimpin Yayasan dimana saya bekerja. Sempat dilema juga, disatu sisi saya mencintai dunia kerja saya, toh meski pendapatan tidak seberapa saya ada kepuasan batin melihat ilmu dan pengalaman saya bisa ditransferkan ke siswa didik. Jadi ilmu yang ada tidak menjadi basi. Kelak akan menjadi manfaat bagi siapa saja. Begitulah prinsip dan azas keyakinan yang kekeuh saya pegang. Namun di sisi lain saya ini kok merasa capek, berdebat dengan pemimpin yang sepertinya kurang respect dengan anak buahnya. Menyadari hal demikian, saya ancang-ancang persiapan mental, tokh suatu saat saya mungkin saja tidak bekerja permanen di institusi swasta ini. Sembari menguatkan imam dengan berkumpul serta berdzikir dengan kelompok pengajian ibu-ibu di rumah. Saya seperti mendapatkan petunjuk lewat petuah yang disampaikan ustadzah.

“Andaikata seseorang tetap memelihara pikiran baik terhadap Allah dan tentunya bersabar secara tawakal dan ikhlas tetap nantinya akan terbuka jalan. Anggap jika satu pintu tertutup akan ada pintu lain yang terbuka…”

Duh, mak nyeeez…banget, hati saya rasanya mak plooong banget. Berawal dari itu saya meyakinkan diri untuk mengundurkan diri. Emang sih ada sebagian perasaan yang hilang. Pertama-tama merasakan sunyi senyap yang begituuuu dalam. Sampai-sampai makan minumpun tak enak. ***weleh-weleh seperti lirik lagu balada saja*** Mungkin adaptasi lingkungan yang akhirnya mengebalkan mental dan emosi. Dulu pernah terbersit pikiran seperti ini : senengnya liat orang terima gajian apalagi menjelang masa-masa THR lebaran, bisa-bisa saya senewen sendiri. Lha, dapat angpaunya cuman dari suami tercinta doang.

Akhirnya, hati kecil ini menjerit. DO SOMETHING. Ya, apalah pokoknya ide usaha yang positif. Coba-coba bikin gorengan seperti bakwan jagung. Pasalnya, kebanyakkan sodara plus tetangga memuji bakwan jagung made in ME…rasanya mak nyuus getoo looh. (maaf dilarang komen keras,ya 🙂 ) . Saya titipkan di bakul belanja. Tapi lama kelamaan saya malah bosan. Tidak bisa istiqomah karena anak sulung saya suka iseng, nyobain snack emaknya. Kalo cuma satu ato dua biji ga masalah. Lha, ini itung-itung kok kebabablasa sampe lima biji lebih. Duh, namanya saja anak-anak kata swami memberi penghiburan.

Ternyata penantian panjang itu berbuah juga, tepatnya tahun 2007 ada sodara dari Salatiga, mengenalkan resep bikin susu dari sari kedelai. Sebenarnya saya tidak begitu menyukai. Tau sendiri,kan rasanya sengur berbau kacang, mendingan masih enakan susu sapi (meskipun ngerasa eneg) Hahaha.
Tetapi, sesuatu yang bukan diharapkan itu ternyata memberi secercah harapan. Menurut sodara saya, usaha bikin minuman (terbuat dari air) biasanya lebih menguntungkan dibandingkan yang berbahan dasar masakan. Eiiit ternyata resep minumannya begitu manjur sekali. Maksutnya dalam usaha niaga kecil-kecilan. Apalagi modal yang dibutuhkan tidak mencapai jutaan.

Dengan bermodal montor, wadah plastik besar dengan satu set sedotan…akhirnya saya coba berjualan keliling. Pertamanya memang dipromosikan teman, kerabat dan sodara sendiri. Semuanya promosi alias gratiiiis…tis tis. 30 buah sule sukses saya promosikan keliling tar-kam. Antar kampung.Setelah berjalan kurang lebih 3 bulan, akhirnya sedikit demi sedikit ada pelanggan juga. Betapa bahagianya perasaan saya ketika itu, moto jemput bola yang saya yakini bisa menuai kesuksesan akhirnya memberikan efek luar biasa. Katakanlah dalam sehari saya mampu menjual 100-150 bungkus/ hari dengan harga berkisar @ Rp 1.500,- Nah, terbayang profitnya kan. Ini merupakan usaha yang fun buat ibu-ibu rumah tangga.

IMG_0002

Susu Dele Bergizi Tinggi : sumber foto pribadi

Jadi, terhitung hampir 6 tahun sampai kini, saya tetap menjalan bisnis sule ini bersama keluarga. Selain hasilnya yang menggiurkan, usaha yang saya lakoni ini tidaklah memakan waktu lama. Karena pelayanan sule saat ini melayani pesanan para langganan yang menjadi konsumen setia sule bertahun-tahun.

Tulisan ini disertakan pada Giveaway  : Perempuan dan Bisnis (temen saya yang tercantik :Mak Uniek.K )

P.s : Nitip pesen kalo menang pengin Tupperware ato buku Triks Menulis itu,ya 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Secercah Asa Dibalik “Sule”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s