Cenat-Cenut Reporter

Gara-gara lihat teman kanan-kiri, pada nyambi kerja waktu kuliah, maka hati ini kepincut ingin ikut-ikutan. Biar dibilang semakin eksis plus narsis, kaleee. Hehehe. Makanya nyoba ngelamar kerja kesana kemari, hasilnya nihil doang. Mungkin belum ada tampang meyakinkan menjadi seorang karyawan baru,ya. Lagi-lagi gigit jari. Wah tambah frustasi banget, melihat kenyataan mendapat peluang kerja tidak seindah impian.

Tapi, alhamdullilah ternyata Tuhan itu Maha Baik (wowww, ini artinya aku mendapat kemujuran, nih ) Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba. Waktu itu ada info dari seorang teman yang kebetulan suka mendesain grafis, nawarin job yang unexpectable sama sekali. Namanya saja terlanjur gelap mata, tanpa ba bi bu lagi langsung saja kuiyakan.  100% okay malahan. Hahaha !

Penasaran ,kan. Mau tahu ? Hayooo, simak curhatku belajar mewawancarai orang terkemuka, ya.

Awalnya tawaran temenku itu terkesan mudah dan praktis. Lha, gak susah nulis surat lamaran plus wawancara. Singkatnya, job deskripsi-nya, aku cuma anter draft desain dan ambil desain grafis yang sudah jadi dipercetakan. Seminggu sekali kirim iklan ke redaksi koran hariannya wong Jateng. Uhuuuy, asik geboiii nih, mana lumayan pula bayaran per bulan. Enam ratus ribu, book. Terhitung mewah banget untuk “kantung” anak kuliah pas jamanku itu. 😀
Di kantornya temenku yang notabene kerjasama dengan Babenya, usahanya freelance, terutama desain merek dan berbagai logo kardus untuk keperluan sang paranormal di kota Mina-Pati. Usut punya usut Babe temanku itu joint ventura dengan salah satu paranormal yang cukup punya nama di sana. (Hmmm.. kasih tau gak, ya ???). Lepas dari semua rasa penasaranku akan kehidupan normal sang paranormal, eeit aku malahan mendapat tugas dadakan yang selalu teringat seumur hidupku. Membuat wawancara baru dengan tokoh paranormal lain, tentunya dengan tujuan untuk mengorbitkan nama baru.

Yaeeelah, baru pertama kali ini aku menginjakkan kaki di kota kecil yang terasa sepi, jauh dari hingar-bingar keramaian kota. Yaap, aku kudu berhasil menjalankan misi ke Pati. Untuk menawarkan promosi nama satu tokoh pendiri paranormal sekaligus ketua paguyuban paranormal se Jawa Tengah. Glek ! Benar-benar peristiwa yang menantang, karena ini awalnya aku berkenalan dengan dunia reportase.

Berbekal modal nekad, tak lupa sudah menyiapkan bekal makanan (roti tawar meises~siapa tahu ditengah jalan mengalami shock cultural), tape recorder kecil (maklumlah saat itu aku belum begitu piawai memakai ponsel apalagi yang multifungsi, alih-alih bisa beli, sekedar mengaguminya sudah suatu hal yang luar biasa. Oiya, aku secara ekstra minta pendampingan asisten Babe sebagai penunjuk jalan, karena yang sudah tau lika-liku jalannya.

Sekitar jam 10 siang, aku dan asisten Babr yang cuma nongkrong di motor saja, sudah dipersilakan menunggu menghadap Bos Paranomal. karena memang begitulah, sapaan akrabnya : Bos Edi atau Bos paranormal. Lumayan antreannya, seperti beberapa pasien yang sudah hadir. Ternyata mereka ada yang berasal dari luar Jawa, dibela-belain sampe menginap. Sabaaar, sabaar. Aku menghibur diri menghela nafas, meredam resah. Terbayang gak, sih dengan profil Bos Edi. Belom lahyaaow ^_^.

Ccck…cck, aku berdecak kagum dalam hati, manakala melihat desain interior dalam rumah. Begitu indah dan mempesona. Ada pula stasiun pemancar radio dengan antenanya yang menjulang tinggi. Pasti, empunya orang yang berkantung tebal, batinku. Tak lama kemudian giliranku menghadap.  Wowww… aroma sedap wewangian menguar, menerpa wajah.  Mungkin begini  aroma khas tempat praktek paranormal,kalee.  Dengan sigap dan hangat beliau menyambutku. Meski tampang luarnya tampak sangar, lihat saja tindikan satu di telinga, rambut kriwilnya seperti acak-acakan. Belum lagi suara baritonnya yang berat dengan sekali berdehem, nyaris menciutkan  nyaliku. Bismillah.

“Hmmm, bagaimana mbak ?” tiba-tiba saja suara Bos Edi menyentakkan lamunanku.

“Maaf, ya Bos  eeh Pak Edi yang ter-hor-ma-aaat,” kataku agak tersendat-sendat. Berusaha mengatur irama nafas, biar gak kelihatan super nervous. Lanjutku ,” kedatangan saya kemari tak lain ingin menyampaikan maksut. Terlebih dulu Pak Edi berkenan membaca surat dari atasan saya,” Aku segera menyodorkan surat bersampul putih. Selang beberapa menit, beliau tersenyum manis semanis permen lollipop.

“Oooh, okay deh kalau begitu. Saya siap,mbak. Silakan langsung ditanyakan,” kata Bos Edi memberi kesempatan.

“Terima kasih sekali, Pak !” jawabku senang. Waduuuh, pikiranku malah kusut. Bukan karena apa-apa, rasa grogi seperti menguasai gerak-gerikku. Bayangkan saja, mau mencomot, notes yang sudah ada contekan pertanyaan penting saja belum ketemu. Tangannku seperti menyapu semua isi dalam tas. Kuaduk-aduk sampai amburadol, pikiranku tambah senewen. Ditambah beberapa barang kewanitaanku seperti  pantiliner, lisptiks berhamburan keluar tas.

“Sudah, nyante saja mbaaak,” ucap Bos Edi mengerti kepanikanku. Tentunya sudah melirik, barang-barang pentingku  yang berjatuhan bebas di lantai. Kepalaku mengangguk mengiyakan. Pastilah mukaku sudah seperti kepiting rebus menahan malu. Dengan cepat aku harus memutar otak, mencari topik wawancara yang simple, lugas tapi tepat. Untung seribu untung gak kebablasan, jeritku dalam hati menyemangati.

“Jika tidak keberatan, mohon ijin merekam juga,ya Pak,” aku memberanikan diri minta persetujuan. Di luar dugaan, Bos Edi menggerakan tangan menyilakan. Sambil mewawancarai, mataku sesekali tak lepas ke tape recoreder yang ditangan, takutnya salah kepencet. Meski seyakinnya sudah pencet  tombol “record”. Amanlah, obrolan yang berlangsung semulus jalan tol. Meski awalnya seringkali tergagap-gagap. Maklum, demam panggung, kata kebanyakkan orang.

Akhir, sesi wawancara ganti Bos Edi yang blak-blakan memberi petuah. Dan ini tentunya penting dicatat dan diingat selalu. Pungkasnya, ” Menurut saya pribadi, apa tidak seharusnya nyaman memakai smartphone saja, mbak. Kan gak, ribet seperti tadi.” Oopss…olalala telak sekali ucapan barusan. Tapi ada benarnya juga, selain praktis kan simple. Gak bikin malu-maluin muka. Waduuuh, tengsin sebenarnya. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Tak perlu disesali ulang. Yang penting ketika pamit pulang. Seperti umumnya wong Jawa yang santun dengan membungkukkan badan, pssst Bos Edi mengangsurkan amplop kecil khusus untuk reporter pemula macam diriku. Ya, namanya reporter culun. Lumayan deh, untuk biaya transportasi pulang.

cover-depan-cenat-cenut-reporter1Tulisan ini diikut sertakan dalam : GiveAway buku CENAT-CENUT REPORTER

Advertisements

3 thoughts on “Cenat-Cenut Reporter

    • Naah, itu mbaak parahnya…saking grogi kok lupa. Sesi wawancara ga sampe 1/2 jam,wes kelar. Ya mungkin dihandle sama asisten Babe yang lain. Aku bertahan disitu gak ada setengah tahun. Langsung move on. Nyesel deh,kalo inget pengalaman langka yang tak mampu kumanfaatkan sebaik mungkin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s